Suarademokrasi, Jakarta – Platform kerja sama masyarakat sipil Indonesia-Tiongkok, Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC), resmi diluncurkan di Jakarta. Platform ini diharapkan menjadi jembatan penguatan hubungan kedua negara di level masyarakat atau people-to-people.
Peluncuran IFSRC digelar bersamaan dengan Seminar Nasional bertajuk “Memahami Global Civilization Initiative (GCI) dari Perspektif Hubungan Indonesia-Tiongkok” di Hotel Borobudur, Jakarta.
Direktur Sino Nusantara Institute, Ahmad Syaifuddin Zuhri, mengatakan IFSRC dirancang sebagai wadah kolaborasi masyarakat Indonesia dan Tiongkok dalam sejumlah bidang. Mulai dari pertukaran pemuda, budaya, akademik hingga bisnis.
“Harapan dari peluncuran ini adalah sebagai salah satu platform kerja sama di level people-to-people antara Indonesia dan Tiongkok. Platform ini menjadi jembatan untuk program pertukaran pemuda, budaya, akademik, hingga bisnis,” ujar Zuhri di lokasi acara.
Menurut Zuhri, penguatan hubungan Indonesia-Tiongkok tidak cukup hanya dilakukan melalui jalur pemerintah. Peran masyarakat sipil juga diperlukan untuk mendukung sekaligus mengawal kebijakan bilateral kedua negara.
Dia menilai Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan dalam membangun arah kebijakan diplomasi dan kerja sama luar negeri. Kondisi tersebut berbeda dengan Tiongkok yang dinilainya telah memiliki arah kebijakan yang lebih matang.
“Kebijakan dari kita dan praktiknya memang masih banyak tantangan. Kami dari masyarakat sipil mencoba mendukung di level masyarakat,” katanya.
“Kebijakan diplomasi ke luar kita kan belum ada roadmap-nya, baru sebatas kerangka dan belum sepenuhnya jadi kebijakan. Itu yang harus kita kawal,” sambung Zuhri.
Zuhri mengatakan IFSRC juga akan mendorong gagasan dan rekomendasi terkait hubungan Indonesia-Tiongkok agar dapat menjadi masukan bagi pemerintah.
Gagasan tersebut, kata dia, akan disampaikan melalui berbagai ruang publik, termasuk media. Harapannya, pemikiran dari masyarakat sipil dapat didengar dan dipertimbangkan pemerintah, termasuk pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Sino Nusantara Institute sebagai lembaga independen di luar kampus dan pemerintah menyatakan akan terus berkontribusi dalam memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok.
Ke depan, IFSRC juga tengah menyiapkan sejumlah agenda strategis. Salah satunya kegiatan yang akan membahas perkembangan investasi Tiongkok di Indonesia.
“Akhir tahun ini kami berencana menggelar kegiatan terkait satu tahun investasi Tiongkok di Indonesia yang rencananya diadakan di Jawa Tengah,” pungkas Zuhri. (L)

















