Suarademokrasi, JAKARTA — Tanoto Foundation menegaskan komitmennya dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui fokus pada tiga sektor utama, yakni pendidikan, kesehatan, dan pengembangan kepemimpinan.
Head of Government Engagement and Advocacy Tanoto Foundation Antony Lee mengatakan, Indeks Modal Manusia (IMM) menjadi salah satu acuan penting dalam menentukan prioritas intervensi, khususnya untuk melihat kesenjangan pembangunan antardaerah.
Menurut Antony, berbagai program yang dijalankan Tanoto Foundation diarahkan pada indikator-indikator penting dalam IMM sekaligus mendukung agenda pemerintah menuju Indonesia Emas 2045.
Kualitas Guru Jadi Perhatian
Di sektor pendidikan, Tanoto Foundation menilai peningkatan kualitas guru serta penguatan kemampuan literasi dan numerasi dasar masih menjadi pekerjaan penting.
Antony mengatakan, meski angka harapan lama sekolah anak Indonesia telah berada pada kisaran 12-13 tahun, capaian tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kualitas pembelajaran.
“Kami melihat investasi pada kompetensi guru dan dorongan terhadap active learning di kelas memberikan dampak yang sangat besar. Jika anak-anak tertinggal di kelas awal, SD kelas 1-3, dampaknya akan terus terasa hingga kelas atas,” ujar Antony.
Selain kualitas guru, Tanoto Foundation juga menyoroti pentingnya intervensi sejak usia dini. Kesiapan anak untuk memasuki pendidikan formal dinilai perlu dibangun sejak usia 0-3 tahun melalui stimulasi tumbuh kembang.
Menurut Antony, periode awal kehidupan merupakan fase penting bagi perkembangan anak. Karena itu, intervensi pada masa tersebut dinilai dapat memberikan dampak besar terhadap kualitas SDM di masa mendatang.
Dorong Percepatan Penanganan Stunting
Sementara di sektor kesehatan, percepatan pencegahan dan penanganan stunting menjadi salah satu perhatian Tanoto Foundation.
Antony mengatakan terdapat tiga strategi utama yang didorong, yakni konvergensi dan literasi data, kemitraan multipihak, serta komunikasi perubahan perilaku.
Konvergensi data diperlukan agar pemerintah daerah memiliki informasi yang akurat mengenai kelompok masyarakat rentan. Dengan demikian, intervensi maupun bantuan yang diberikan dapat lebih tepat sasaran.
“Data menjadi penting agar kita mengetahui siapa yang membutuhkan intervensi dan bagaimana intervensi tersebut bisa diberikan secara tepat,” jelasnya.
Selain itu, Tanoto Foundation mendorong kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan berbagai pihak lainnya, termasuk dengan lembaga pemerintah seperti BKKBN dan Kementerian Kesehatan.
Upaya tersebut juga perlu dibarengi dengan komunikasi perubahan perilaku, terutama dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pola asuh, kesehatan, dan pemenuhan nutrisi keluarga.
Program Masuk RPJMD 20 Daerah
Untuk memastikan program penguatan SDM dapat berkelanjutan, Tanoto Foundation bersama Bappenas dan Kementerian Dalam Negeri telah melakukan pendampingan terhadap 20 kabupaten/kota di enam provinsi.
Pendampingan tersebut antara lain diarahkan untuk memperkuat kebijakan daerah di bidang literasi-numerasi dan pengasuhan positif.
Hasilnya, pilar penguatan literasi-numerasi serta pengasuhan positif telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) di seluruh daerah mitra.
Tanoto Foundation juga memberikan perhatian terhadap pengembangan kapasitas aparatur sipil negara (ASN) dan kepemimpinan daerah.
Antony menilai kualitas birokrasi menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan kebijakan publik dapat diterapkan secara efektif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“IMM ini bukan sekadar angka, melainkan instruksi bersama untuk melihat daerah mana yang membutuhkan penanganan mendesak,” kata Antony.
“Melalui kolaborasi lintas sektor—pemerintah pusat, daerah, swasta, dan filantropi—kita dapat memanfaatkan data IMM untuk pemantauan konsisten menuju Indonesia Maju 2045,” pungkasnya. (L)

















