Suarademokrasi, Jakarta — Permasalahan sampah di Indonesia dinilai telah mencapai titik kritis dan membutuhkan langkah penanganan yang bersifat revolusioner, bukan lagi pendekatan seremonial. Hal tersebut ditegaskan Marsda TNI (Purn.) Dr. I Nyoman Trisantosa, SIP, dalam diskusi bertajuk pengelolaan sampah berkelanjutan yang digelar di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Jumat (6/1/2026).
Menurut Trisantosa, selama ini persoalan sampah terlalu sering berhenti pada wacana, seminar, dan workshop tanpa diikuti aksi konkret di lapangan. Padahal, akar masalahnya terletak pada perilaku dan budaya masyarakat yang belum terbentuk dengan baik sejak dini.
“Perubahan harus dimulai dari cara berpikir. Kalau mau serius, pengelolaan sampah harus dikenalkan sejak usia sekolah. Tidak perlu jam pelajaran besar, yang penting konsisten dan praktis,” ujarnya.
Ia menilai, pendidikan tentang sampah seharusnya tidak hanya bersifat teoritis, melainkan mengajarkan kebiasaan nyata, mulai dari memilah sampah organik, plastik, dan kertas, hingga mengolah sampah rumah tangga yang masih memungkinkan untuk dimanfaatkan kembali.
“Sampah yang bisa diolah, kelola sendiri. Yang tidak bisa, serahkan kepada petugas kebersihan. Dengan begitu, beban di hilir akan jauh berkurang,” kata Trisantosa.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa persoalan sampah tidak berdiri sendiri sebagai isu teknis, melainkan berkaitan erat dengan tata kelola, manajemen kebijakan, dan keberanian pemerintah dalam mengambil keputusan strategis. Pemerintah daerah hingga pusat diminta tidak ragu melakukan terobosan, termasuk memanfaatkan teknologi pengolahan sampah skala besar yang sudah terbukti di berbagai negara.
Keterlibatan sektor swasta juga dinilai krusial melalui skema kerja sama yang saling menguntungkan. Bahkan, Trisantosa melihat potensi besar pengelolaan sampah berbasis energi sebagai solusi ganda bagi lingkungan dan ekonomi.
“Sampah bisa diubah menjadi energi listrik dan dijual ke PLN. Ini bisa masuk Program Strategis Nasional (PSN). Lingkungan tertangani, nilai ekonominya juga jalan,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi, kunci utama tetap berada pada kesadaran masyarakat. Keteladanan orang tua di rumah, guru di sekolah, serta pemimpin di ruang publik menjadi faktor penentu keberhasilan.
Penegakan aturan dan pemberian sanksi juga dinilai penting untuk membangun disiplin kolektif, sebagaimana diterapkan di banyak negara maju. Termasuk dalam hal sederhana seperti tidak membuang sampah dan puntung rokok sembarangan.
“Kalau tidak ada tempat sampah, simpan dulu. Ini soal budaya dan tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Trisantosa juga menyoroti dampak serius sampah terhadap sektor pariwisata dan ekosistem laut. Kondisi lingkungan yang tercemar tidak hanya merusak alam, tetapi juga menggerus ekonomi masyarakat di kawasan wisata.
Ia berharap, melalui sinergi antara edukasi, kebijakan yang tegas, pemanfaatan teknologi, dan kesadaran kolektif, persoalan sampah dapat dikelola secara berkelanjutan dan tidak lagi menjadi ancaman bagi masa depan lingkungan dan generasi mendatang. (L)

















