Suarademokrasi, Madiun – Acara yang berlangsung penuh kehangatan ini menjadi ajang serap aspirasi terkait dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tingkat akar rumput. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua Bidang Kesehatan Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Kristen Indonesia (GAMKI), Chrisindo Reformanda, serta Wakil Bupati Purwakarta, Abang Ijo Hapidin, yang datang bersama keluarga untuk turut berbagi kebahagiaan.
Nanik mengungkapkan rasa syukurnya setelah melihat langsung kondisi anak-anak yatim piatu, baik yang tinggal di pondok pesantren, panti asuhan, maupun yang dikelola secara mandiri oleh pihak desa. Berdasarkan testimoninya, seluruh anak yang hadir mengaku telah merasakan manfaat nyata dari program MBG.
“Alhamdulillah, semua sudah memperoleh MBG. Mereka sangat gembira dengan adanya program ini. Bahkan ketika saya tanya secara spontan apakah program ini boleh dihentikan, mereka serempak menjawab jangan,” ujar Nanik.
Menurutnya, program ini bukan sekadar pemenuhan asupan nutrisi, melainkan bentuk kehadiran negara bagi anak-anak yatim piatu dan kaum dhuafa yang membutuhkan kepastian gizi setiap harinya.
Chrisindo Reformanda menilai bahwa respons spontan anak-anak terhadap program intervensi gizi merupakan indikator awal yang autentik dan mencerminkan penerimaan positif di tingkat masyarakat. Meskipun bersifat observatif, testimoni tersebut menjadi sinyal bahwa kebijakan pemerintah mulai memberikan dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari anak. Ke depan, pendekatan ini perlu diperkuat dengan data kuantitatif dan evaluasi terukur agar dapat menjadi dasar kebijakan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, langkah strategis yang diinisiasi oleh Badan Gizi Nasional menunjukkan arah kebijakan yang semakin terstruktur dan berorientasi pada hasil. Pendekatan yang sistematis dan terintegrasi ini menjadi fondasi penting dalam memastikan intervensi gizi tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi berkelanjutan dan berdampak luas.
Sejalan dengan itu, komitmen kepemimpinan Prabowo Subianto dalam menempatkan isu gizi sebagai prioritas nasional memperlihatkan adanya keseriusan negara dalam membangun kualitas sumber daya manusia sejak dini. Kebijakan ini bukan hanya menjawab persoalan kesehatan, tetapi juga menjadi investasi strategis dalam memperkuat ketahanan generasi muda Indonesia.
Lebih jauh, Chrisindo mengajak semua pihak untuk memiliki pandangan yang luas bahwa intervensi gizi juga memiliki implikasi strategis dalam menekan kerentanan sosial, termasuk potensi penyalahgunaan narkotika di usia muda. Oleh karena itu, diperlukan integrasi kebijakan yang lebih holistik antara sektor kesehatan, pendidikan, dan pencegahan narkotika agar dampaknya semakin optimal dan berkelanjutan.
Selain berbagi keceriaan Idulfitri, kegiatan ini juga membagikan perlengkapan alat sekolah untuk mendukung kelancaran pendidikan anak-anak tersebut. Kegembiraan mereka pada sore hari semakin bertambah karena setiap anak yang hadir menerima peralatan sekolah guna menunjang aktivitas menjelang hari sekolah. (L)



















