Suarademokrasi, Jakarta — Perusahaan konstruksi dan manufaktur industri kelapa sawit, PT Merge Jati bersama anak usahanya Excel Mech, terus memperluas ekspansi pembangunan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) hingga ke sejumlah negara di kawasan Amerika Latin.
Direktur Utama PT Merge Jati, Andi Ann, mengatakan perusahaan telah berpengalaman lebih dari 26 tahun dalam pembangunan infrastruktur industri sawit, mulai dari PKS, pelabuhan, hingga fasilitas pengolahan minyak goreng di Indonesia maupun luar negeri.
“Sejak berdiri tahun 1999, kami sudah membangun pabrik dari Aceh sampai Merauke. Proyek terakhir kami di Merauke untuk PT Korindo, dan saat ini sedang membangun satu unit PKS baru di Kendawangan, Kalimantan Barat,” kata Andi Ann saat ditemui di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Menurut dia, perusahaan juga telah mengerjakan sejumlah proyek pembangunan PKS di Filipina, Thailand, beberapa negara Afrika, hingga kawasan Amerika Latin seperti Honduras, Kosta Rika, dan Meksiko.
“Kami sudah membangun sekitar enam pabrik di Amerika Latin dan terakhir di Meksiko melalui kerja sama dengan pemerintah setempat,” ujarnya.
Selain bergerak di bidang konstruksi, PT Merge Jati juga mengembangkan layanan technical service dan maintenance untuk industri PKS. Dalam layanan tersebut, perusahaan menangani pengelolaan perawatan pabrik secara menyeluruh selama masa kontrak tertentu.
“Kami mengelola maintenance dari A sampai Z. Selama tiga tahun kami bertanggung jawab memulihkan kapasitas pabrik dan menjaga proses operasional selama 24 jam, termasuk penggantian sparepart sesuai jadwal tanpa menunggu kerusakan,” kata Andi Ann.
Ia menilai sistem perawatan berkala menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga efisiensi operasional serta stabilitas produksi industri sawit.
Terkait kepatuhan regulasi, Andi Ann memastikan perusahaan menjalankan kewajiban perpajakan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Sebagai perusahaan konstruksi, pajak final 3 persen langsung dipotong dari setiap tagihan. Kami jalankan sesuai aturan,” ujarnya.
Ke depan, PT Merge Jati juga membuka peluang kerja sama dengan pemilik perkebunan sawit untuk pembangunan dan pengelolaan pabrik secara bersama.
Di sisi lain, Andi Ann menilai industri manufaktur mesin sawit di Indonesia saat ini semakin berkembang dan kompetitif. Menurutnya, produsen lokal telah mampu menghasilkan mesin dengan kualitas yang baik serta harga bersaing.
“Kami juga membawa teknologi dari luar dan bekerja sama dengan mitra-mitra di Indonesia agar industri sawit nasional semakin maju,” katanya.
Ia berharap pameran industri sawit di masa mendatang dapat lebih banyak menghadirkan inovasi teknologi hijau dan solusi ramah lingkungan bagi sektor perkebunan dan pengolahan sawit.
“Ke depan akan lebih banyak teknologi ramah lingkungan. Saya berharap pameran seperti ini lebih fokus menghadirkan teknologi baru dan pembicara yang membahas inovasi industri sawit,” tutupnya. (L)



















