Suarademokrasi, Jakarta – Di balik tembok tinggi dan jeruji besi, suasana berbeda terasa di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang, Kamis (26/2). Senja Ramadan yang biasanya sunyi berubah hangat. Gazebo lapas dipenuhi puluhan anak yatim, keluarga Warga Binaan, masyarakat sekitar, hingga para pegawai outsourcing yang duduk berdampingan menanti azan Magrib.
Momentum itu kian bermakna dengan hadirnya Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menimipas), Agus Andrianto. Kehadiran orang nomor satu di bidang pemasyarakatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan penegasan bahwa lembaga pemasyarakatan harus menjadi ruang pembinaan yang menyentuh sisi kemanusiaan.
Di tengah suasana yang khidmat, Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Wachid Wibowo, menyampaikan komitmen institusinya untuk terus menghadirkan pemasyarakatan yang humanis dan inklusif. Menurutnya, Ramadan adalah momen refleksi—bukan hanya bagi Warga Binaan, tetapi juga bagi seluruh jajaran petugas.
“Lapas tidak boleh terpisah dari masyarakat. Justru di sinilah kita membangun empati, solidaritas, dan harapan,” tegas Wachid, disambut anggukan para tamu yang hadir.
Agus Andrianto dalam sambutannya menekankan bahwa nilai kemanusiaan harus menjadi fondasi setiap kebijakan. Ramadan, kata dia, mengajarkan arti kepedulian, terutama kepada anak-anak yatim dan keluarga yang kerap berada di lingkar sunyi stigma sosial.
“Pemasyarakatan harus menghadirkan harapan. Di tempat inilah proses pembinaan dijalankan, bukan sekadar menjalani hukuman,” ujarnya.
Menjelang azan Magrib, suasana kian syahdu. Anak-anak yatim duduk berdampingan dengan keluarga Warga Binaan dan para petugas. Sekat-sekat sosial seolah luruh. Doa-doa dipanjatkan, bukan hanya untuk keberkahan berbuka, tetapi juga untuk masa depan yang lebih baik.
Yanti, keluarga Warga Binaan asal Tambora, mengaku rela menempuh perjalanan demi hadir dalam acara tersebut. “Kami sering merasa sendiri. Tapi hari ini berbeda. Kami merasa diperhatikan,” ucapnya lirih.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama, menjadi penanda bahwa Ramadan di Lapas Cipinang bukan sekadar rutinitas tahunan. Di balik dinding kokoh itu, pesan kuat disampaikan: pemasyarakatan bukan hanya tentang penegakan hukum, melainkan tentang mengembalikan martabat, menumbuhkan harapan, dan merajut kembali ikatan sosial yang sempat terputus. (Siska)


















