Suarademokrasi, Jakarta – Ajang Pemilihan Putri Kebaya 2026 yang digelar di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia berlangsung meriah sekaligus sarat makna budaya. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi panggung kompetisi, tetapi juga wadah untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya Indonesia, khususnya kebaya.
Dalam proses seleksi, para finalis harus melewati sejumlah tahapan yang cukup menantang. Setelah terpilih 5 besar, peserta dihadapkan pada sesi pitch atau pidato singkat berdurasi satu menit untuk menentukan tiga besar terbaik.
Selanjutnya, para finalis yang masuk tiga besar kembali diuji melalui sesi tanya jawab bersama dewan juri serta pertanyaan acak. Tahapan ini bertujuan menguji wawasan, kepribadian, hingga kecintaan peserta terhadap budaya Indonesia.
Dalam ajang ini, terdapat total 13 kategori penghargaan, terdiri dari juara utama (Juara 1, 2, dan 3) serta 10 kategori atribut. Beberapa kategori atribut yang diperebutkan di antaranya Best Social Media, Best Performance, Best Berbakat, Best Inspiratif, dan Favorit, serta kategori lain yang menilai keunikan dan potensi peserta.
Untuk pemenang utama, panitia menyediakan sejumlah hadiah berupa piala, selempang, kebaya dari sponsor, serta voucher untuk melaju ke tingkat nasional. Selain itu, pemenang juga mendapatkan buket bunga dan berbagai produk sponsor seperti skincare dan kebutuhan lainnya.
Sementara itu, pemenang kategori atribut memperoleh plakat penghargaan, selempang, serta hadiah dari sponsor.
Salah satu sponsor utama dalam kegiatan ini adalah Galeri Sabata yang menghadirkan berbagai produk kreatif berbasis batik, mulai dari aksesori hingga perlengkapan fungsional seperti tempat makeup.
Ketua panitia pelaksana, Kadella, berharap ajang ini tidak hanya dipandang sebagai kompetisi kecantikan semata.
“Harapan terbesar saya, ajang ini bukan hanya tentang penampilan atau besarnya biaya yang dikeluarkan. Namun benar-benar tentang perempuan muda yang mencintai budaya Indonesia dengan sepenuh hati, memahami nilai-nilainya, dan melestarikannya sesuai pakem. Kebaya sudah diakui oleh UNESCO, dan sudah seharusnya kita sebagai generasi penerus ikut menjaga dan melestarikannya,” ujarnya.
Ia menambahkan, ke depan persiapan acara akan terus ditingkatkan, terutama dari sisi koordinasi dan pembekalan peserta agar kualitas penyelenggaraan semakin baik.
Melalui ajang ini, diharapkan semakin banyak generasi muda yang tidak hanya bangga mengenakan kebaya, tetapi juga memahami makna dan filosofi di baliknya, sehingga budaya Indonesia tetap hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi. (L)



















