Suarademokrasi, Sidoarjo – Di tengah pesatnya perkembangan industri dan arus modernisasi, muncul sosok pemimpin yang justru dikenal karena kedekatannya dengan masyarakat. Wakil Bupati Sidoarjo, Mimik Udayana, kini akrab disapa warga sebagai “Mbok’e Sidoarjo”.
Julukan tersebut tidak lahir dari kampanye resmi, melainkan dari pengakuan masyarakat yang merasakan langsung kehadirannya di tengah kehidupan sehari-hari. Sosok Mimik dinilai menghadirkan pendekatan kepemimpinan yang sederhana, namun menyentuh.
Di sela kesibukannya sebagai pejabat daerah, Mimik kerap turun langsung ke lapangan tanpa protokoler ketat. Ia mengunjungi rumah warga, duduk bersama di teras sederhana, dan mendengarkan berbagai persoalan masyarakat secara langsung.
Pendekatan ini dinilai berbeda dari kebanyakan pola kepemimpinan yang cenderung formal. Kehadirannya tidak selalu membawa solusi instan, namun memberi ruang bagi masyarakat untuk didengar.
Bagi sebagian warga, khususnya kalangan ibu-ibu, Mimik menjadi tempat berbagi cerita dan kegelisahan. Sementara bagi pelaku usaha kecil, ia dianggap sebagai sosok yang membuka harapan baru. Generasi muda pun melihatnya sebagai contoh bahwa pemimpin dapat hadir lebih dekat dengan rakyat.
Julukan “Mbok’e Sidoarjo” pun semakin meluas di kalangan masyarakat. Sebutan tersebut mencerminkan sosok pemimpin yang mengayomi, peduli, dan hadir secara nyata di tengah warganya.
Selain itu, Mimik juga dinilai membawa semangat nasionalisme melalui langkah-langkah sederhana, seperti mendorong kembali nilai gotong royong dan memperkuat identitas lokal. Upaya tersebut dilakukan secara konsisten dalam berbagai kegiatan di masyarakat.
Di tengah tren pemimpin yang lebih menonjolkan pencitraan, gaya kepemimpinan Mimik justru tumbuh dari kesederhanaan. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Sidoarjo.
Kini, Sidoarjo tidak hanya dikenal sebagai kawasan industri dan tambak, tetapi juga sebagai daerah yang menghadirkan nilai keibuan dalam kepemimpinan.
Sejumlah warga berharap pendekatan serupa dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain, bahwa kepemimpinan tidak hanya soal kebijakan, tetapi juga tentang empati dan kehadiran nyata di tengah masyarakat. (L)



















