banner 728x250

PT Berkah Inti Daya jadikan sorgum sebagai bahan baku biomassa untuk energi

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

Suarademokrasi, Jakarta – Kegagalan tak selalu berakhir dengan kemunduran. Bagi PT Berkah Inti Daya, pengalaman pahit memasarkan beras sorgum justru menjadi pijakan untuk melangkah ke arah yang lebih menjanjikan. Perusahaan ini kini mengalihkan fokus pengembangan sorgum sebagai sumber energi biomassa, sejalan dengan agenda diversifikasi pangan dan transisi energi terbarukan.

Direktur Utama PT Berkah Inti Daya, Eri Prabowo, mengungkapkan bahwa sekitar lima tahun lalu perusahaan sempat menaruh harapan besar pada beras sorgum. Namun realitas pasar berkata lain. Rendahnya penerimaan konsumen memaksa perusahaan menghentikan operasional pabrik beras sorgum di Blora.

“Kami sudah mencoba, tapi memang belum waktunya. Minat masyarakat masih sangat rendah, akhirnya pabrik kami tutup,” kata Eri dalam diskusi di CORE Indonesia, Selasa (20/1/2026).

Alih-alih berhenti, perusahaan memilih berbenah. Dari pengalaman tersebut, PT Berkah Inti Daya merumuskan pendekatan baru: menjadikan sorgum sebagai bahan baku biomassa untuk energi. Strategi ini dinilai lebih realistis karena memiliki pasar yang jelas dan berkelanjutan.

“Untuk biomassa, offtaker-nya sudah pasti. PLN Energi Primer Indonesia siap menyerap dalam volume besar dan jangka panjang,” ujar Eri.

Keunggulan sorgum tidak hanya terletak pada pasarnya, tetapi juga pada siklus tanamnya yang singkat. Untuk kebutuhan biomassa, tanaman sorgum dapat dipanen sekitar 70 hari setelah tanam, tanpa harus menunggu bulir muncul. Sementara jika diarahkan untuk pangan, panen dilakukan sekitar 100 hari.

Saat ini, perusahaan telah menanam sorgum di sejumlah lahan di kawasan Pelabuhan Ratu, Sukabumi, yang hasilnya akan dipasok ke PLTU Pelabuhan Ratu milik PLN.

Dari sisi hitung-hitungan bisnis, sorgum disebut sangat kompetitif. Produksi beras sorgum bisa mencapai 4 ton per hektare, sementara batang kering yang dimanfaatkan sebagai biomassa dapat mencapai 30 ton per hektare.

“Dengan nilai kalori sekitar 3.000 GAR, harga biomassa sorgum di PLN sekitar Rp 500 ribu per ton. Jadi satu hektare bisa menghasilkan Rp 15 juta per panen,” jelas Eri.

Biaya produksinya pun relatif lebih rendah dibandingkan padi. Bahkan, nilai ekonomi sorgum tidak berhenti pada biomassa dan beras saja. Limbahnya bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sementara benihnya memiliki nilai jual tersendiri.

“Inilah yang saya sebut game changer. Satu tanaman, tapi bisa menghasilkan dua sampai empat sumber pendapatan,” ujarnya.

Meski harga beras sorgum saat ini di pasar daring masih tergolong tinggi—berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram—Eri yakin penerimaan masyarakat akan meningkat seiring waktu. Di tingkat petani, respons justru sangat positif.

“Petani di Pelabuhan Ratu malah bertanya kapan bisa tanam lagi. Harganya menarik, dan sistem plasmanya jelas karena hasil panen langsung kami serap,” katanya.

Transformasi strategi ini menunjukkan bahwa sorgum bukan sekadar alternatif pangan, tetapi juga berpotensi menjadi tulang punggung baru dalam pengembangan energi biomassa nasional.  (L)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *