Suarademokrasi, Jakarta – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Puncak Jaya (IPMAPUJA) se-Jawa Bali menggelar aksi damai di depan Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI, Senin (10/3). Aksi ini bertujuan untuk menyampaikan aspirasi terkait konflik horizontal yang terjadi di Kabupaten Puncak Jaya pasca-pemilihan Bupati dan Wakil Bupati 2025-2030.
Ketua IPMAPUJA se-Jawa Bali, Emison Wonda dalam wawancara usai aksi, menegaskan bahwa para mahasiswa prihatin atas situasi konflik yang telah menyebabkan korban jiwa di daerah mereka. Menurutnya, sejak pelaksanaan Pilkada pada 7 November 2024, pertikaian antara pendukung pasangan calon nomor urut 01 dan 02 terus berlanjut dan telah merenggut nyawa sembilan orang dari satu kubu serta 182 orang dari kubu lainnya.
“Kami mahasiswa dengan tegas menyampaikan bahwa konflik seperti ini tidak boleh terjadi lagi. Kami mendesak Kapolda Papua Tengah, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, serta Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya untuk mengambil langkah serius dalam menjaga keamanan dan mengakhiri kekerasan di daerah kami,”* ujar Emison.
Lebih lanjut, Emison meminta kedua pasangan calon yang bersaing dalam Pilkada untuk segera kembali ke daerah dan berdialog dengan masyarakat guna meredakan ketegangan.
**Aksi Damai Berjalan Tertib**
Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh para mahasiswa ini berlangsung tertib. Di bawah pengawalan aparat kepolisian, para mahasiswa dari berbagai koordinator wilayah (korwil) IPMAPUJA se-Jawa Bali secara bergantian menyampaikan orasi mereka di depan pintu gerbang Kantor Kemendagri. Mereka menegaskan bahwa konflik politik seharusnya tidak berujung pada kekerasan yang merugikan masyarakat dan menghambat pembangunan.
Sebagai bentuk keseriusan dalam menyuarakan tuntutan mereka, IPMAPUJA se-Jawa Bali juga membacakan **Pernyataan Sikap** yang berisi enam poin penting terkait kondisi di Kabupaten Puncak Jaya.
**Pernyataan Sikap Mahasiswa Puncak Jaya**
Dalam pernyataan sikapnya, IPMAPUJA se-Jawa Bali menegaskan bahwa mereka menolak segala bentuk kekerasan akibat perbedaan pilihan politik. Mereka juga mengecam peran **Kapolres Puncak Jaya** yang dinilai hanya menjadi penonton tanpa mengambil langkah tegas dalam meredam konflik.
Berikut adalah tuntutan utama yang disampaikan mahasiswa:
1. **Menuntut kedua pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati serta tim relawan mereka untuk segera kembali ke Kabupaten Puncak Jaya sebelum 12 Maret 2025 dan menandatangani surat pernyataan perdamaian.**
2. **Mendesak Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya dan Penjabat (Pj) Bupati untuk segera menangani pengungsi, khususnya ibu-ibu dan anak-anak, dengan menyediakan tempat yang layak serta makanan dan minuman yang cukup.**
3. **Meminta Kapolri, Kapolda Papua Tengah, dan pemerintah provinsi untuk segera menambah jumlah aparat keamanan di Kabupaten Puncak Jaya serta menangkap para pemimpin konflik yang bertanggung jawab atas pertikaian ini.**
4. **Menuntut pencopotan Kapolres Puncak Jaya karena dinilai gagal dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.**
5. **Meminta seluruh tim relawan pasangan calon untuk berhenti memprovokasi masyarakat dengan menyebarkan isu-isu yang tidak benar.**
6. **Menyerukan kepada pemerintah daerah dan aparat keamanan untuk segera melakukan patroli guna menyita senjata yang digunakan dalam konflik oleh kedua belah pihak.**
Dalam penutup pernyataan sikapnya, para mahasiswa menegaskan bahwa mereka siap menjadi bagian dari solusi damai melalui dialog dan mediasi antara kedua pihak yang berselisih. Mereka berharap tuntutan ini dipertimbangkan dengan serius oleh pemerintah dan pihak terkait demi terciptanya keamanan serta stabilitas di Kabupaten Puncak Jaya.
> *”Kami berharap semua pihak dapat mendengarkan dan mempertimbangkan tuntutan kami demi kebaikan bersama. Mari kita jaga kedamaian dan membangun Puncak Jaya yang lebih baik,”* ujar Emison Wonda, Ketua IPMAPUJA se-Jawa Bali.
Aksi ini menjadi bentuk kepedulian mahasiswa Puncak Jaya yang berada di perantauan terhadap tanah kelahiran mereka. Mereka berharap konflik ini segera berakhir agar pembangunan daerah dapat berjalan dengan lancar, termasuk dalam sektor pendidikan yang menjadi perhatian utama mahasiswa.
Hormat kami,
**Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Puncak Jaya (IPMAPUJA) Se-Jawa Bali**

















