Suarademokrasi, Jakarta – Sistem demokrasi pasca-reformasi di Indonesia dinilai mulai melenceng jauh dari nilai-nilai kebangsaan yang sesungguhnya. Salah satu indikator utamanya adalah tingginya biaya politik (cost politik) akibat penyelenggaraan pemilu dan pemekaran wilayah yang dinilai tidak berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan rakyat.
Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk “Demokrasi Pasca-Reformasi di Persimpangan Harapan dan Realitas: Membuka Ulang Jalan Revolusi Indonesia” yang diselenggarakan oleh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Denny agiel prasetyo Founder Denny Agiel Institute dan Alumni GMNI
Hadiri dalam acara tersebut Pembicara Budiman Sujatmiko Kepala Badan Pengentasan Kemiskinan dan Ray Rangkuti Pengamat Politik.
Dalam pemaparannya, salah satu pembicara Denny Agiel Prasetyo Founder Denny Agiel Institute dan Alumni GMNI, menyoroti fenomena sistem ‘one man, one vote’ yang kini mendominasi dinamika politik tanah air. Ia menilai sistem ini membawa kekhawatiran besar karena telah kebablasan dan menjauhkan Indonesia dari jati diri bangsanya sendiri.
”Yang ada adalah one man, one vote. Ini ngeri betul, ini sudah kebablasan benar. Dan ini jauh sekali daripada ke-Indonesia-an kita. Ini harus menjadi catatan penting,” ujar Denny Agiel Prasetyo dalam seminar tersebut, di Jl. Penjernihan 1 No.50, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, apa yang sudah telanjur berjalan saat ini sulit untuk diubah kembali ke jalur semula tanpa adanya keputusan yang ekstrem dari kepala negara.
”Ini apa yang sudah maju, tidak bisa mundur lagi setahu saya begitu. Artinya, mungkin benar-benar perlu Dekrit Presiden untuk bisa mengembalikan ini,” lanjutnya.
Lebih lanjut, ia juga mengkritik bagaimana besarnya anggaran negara yang habis untuk pesta demokrasi dan pemekaran daerah, namun dampak konkretnya masih belum dirasakan oleh masyarakat luas di berbagai daerah.
”Artinya, dengan cost politik yang sangat mahal, pemiluan dan seterusnya, dengan adanya pemekaran-pemekaran dan seterusnya, ternyata tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat. Jadi ini catatan penting buat semua,” tegasnya.
Berdasarkan pengalamannya berkeliling ke berbagai wilayah di Indonesia, ia mengkhawatirkan dampak jangka panjang dari fenomena ini yang memicu terjadinya penurunan kualitas berpikir di ranah publik dan bernegara.
“Kerusakan secara entitas bangsa, ini terjadi degradasi intelektual yang sangat berbahaya menurut saya. Kita kehilangan arah, kita kehilangan tujuan, bahkan kita kehilangan jati diri kita sebagai sebuah bangsa,” pungkas Denny Agiel Prasetyo di hadapan para peserta seminar yang hadir. (L)


















