Suarademokrasi, Jakarta – Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) Se-Jabodetabek menggelar Leadership Forum bertajuk “Executive Insights: Menjadi Pemimpin BUMN yang Berintegritas, Adaptif, dan Berdaya Saing”. Forum ini menghadirkan Dr. Ir. Abdul Rivai Ras, M.M., M.S., M.Si., IPU, ASEAN Eng., sebagai salah satu pembicara utama.
Dalam forum tersebut, Abdul Rivai Ras membagikan pengalaman kepemimpinannya selama lebih dari tiga dekade. Ia diketahui memiliki pengalaman 32 tahun di lingkungan TNI Angkatan Laut serta pernah bertugas di sejumlah kementerian dan lembaga negara, di antaranya Kementerian Pertahanan, Sekretariat Negara, Kemenko Polhukam, hingga Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Pengalaman di bidang operasional, kebijakan strategis, hingga akademik tersebut menjadi salah satu fondasi dalam membangun perspektif kepemimpinan yang adaptif.
“Kepemimpinan itu bukan sekadar manajemen, tetapi bagaimana kita menginspirasi perubahan, meningkatkan hasil, dan memotivasi orang lain. Leadership adalah talenta yang bisa diasah dan ditempa melalui pengalaman, bukan hanya dari pendidikan formal,” ujar Abdul Rivai Ras di hadapan para alumni Unhas.
Ia juga menyoroti pentingnya peran pemimpin korporasi dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. Menurutnya, sektor pangan memiliki keterkaitan erat dengan aspek logistik dan ketahanan negara.
Abdul Rivai Ras mengibaratkan pangan sebagai bagian penting dari logistik pertahanan yang memiliki dampak strategis terhadap stabilitas nasional.
“Dalam istilah militer, logistics cannot win a battle, but without logistics, a battle cannot be won. Pangan adalah logistik yang menjadi senjata geopolitik dan fondasi stabilitas nasional,” katanya.
Menurut dia, gangguan terhadap ketahanan pangan tidak hanya berdampak terhadap sektor ekonomi, tetapi juga berpotensi memicu inflasi hingga gejolak sosial.
“Jika ketahanan pangan terganggu, dampaknya bisa memicu inflasi hingga gejolak sosial,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Abdul Rivai Ras juga menyampaikan sejumlah prinsip yang dinilai penting bagi calon pemimpin korporasi dalam menghadapi dinamika bisnis yang semakin kompleks.
Pertama, pemimpin harus memiliki pemahaman strategi. Kemampuan membaca perubahan dan menciptakan visi masa depan diperlukan untuk menjaga keberlanjutan perusahaan.
Kedua, eksekusi yang kuat. Strategi yang baik, menurutnya, harus didukung sistem organisasi yang efektif agar dapat diterjemahkan menjadi program dan hasil nyata.
Ketiga, keberanian mengambil peluang. Ia mendorong generasi muda agar tidak selalu memilih arena yang sudah penuh dengan persaingan, tetapi berani mencari ruang baru yang memiliki peluang pertumbuhan lebih besar.
“Generasi muda harus berani bertarung di arena yang kompetisinya belum terlalu padat. Di situlah peluang untuk menciptakan keberhasilan bisa lebih besar,” tuturnya.
Leadership Forum IKA Unhas Se-Jabodetabek tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman dan wawasan bagi para alumni, khususnya dalam mempersiapkan pemimpin yang mampu menghadapi tantangan dunia korporasi dan pemerintahan.
Melalui forum ini, IKA Unhas Se-Jabodetabek berharap dapat mendorong lahirnya generasi pemimpin yang tidak hanya memiliki kompetensi manajerial, tetapi juga berintegritas, adaptif, berani mengambil keputusan, serta memiliki wawasan strategis untuk berkontribusi bagi kemajuan BUMN dan instansi publik. (L)


















