Suarademokrasi, Jakarta – Fenomena menarik jaksa tangkap polisi dan polisi geledah jaksa menjadi sangat menarik sekaligus menjadi sorotan media dan rakyat Indonesia bahkan menyita perhatian dunia.
Betapa tidak, institusi yang seharusnya melakukan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, justru saling menunjukan sekaligus membuka aib masing-masing institusi.
Ketua Umum Forum Aliansi Masyarakat Anti Korupsi, Jalih Pitoeng, mengajak agar kejadian tersebut menjadi bahan renungan demi selamatkan Indonesia dari korupsi.
“Ini adalah momentum yang sangat monumental untuk melakukan koreksi dan saling memperbaiki,” ungkap Jalih Pitoeng, Rabu (22/07/2026).
“Kami ucapkan Dirgahayu yang ke 66 tahun bagi Adiyaksa,” ucap Jalih Pitoeng.
“Semoga di usianya yang semakin dewasa kejaksaan akan lebih membuktikan Karya Bhakti dan prestasi terbaik untuk negeri ini. Aamiin…!!!,” harap Jalih Pitoeng.
Ditanya bagaimana Kejagung menghadapi kemelut dan tantangan terhadap kasus mantan Jampidsus Febrie, yang telah dilimpahkan oleh kepolisian, Jalih Pitoeng menjawab tegas.
“Ya harus tegas, menjunjung netralitas dan integritas Kejagung sebagai tumpuan keadilan bagi rakyat Indonesia,” pinta Jalih Pitoeng.
Ketua umum FORMASI inipun secara objektif memuji kinerja Kejagung dalam upaya pemberantasan korupsi selama ini.
“Kita harus objektif dan bijak dalam menilai berbagai peristiwa yang menimpa kejaksaan,” ujar Jalih Pitoeng.
“Terlepas apakah dia (red-Febrie) bersalah atau tidak, secara faktual, Kejagung telah berhasil mengungkap beberapa kasus Mega Korupsi bahkan mengembalikan kerugian negara dengan jumlah yang belum pernah terjadi sepanjang negeri ini berdiri,” Jalih Pitoeng memaparkan.
“Termasuk yang terakhir dalam pengungkapan kasus Mega Korupsi di BGN yang tak kenal ampun,” Jalih Pitoeng menegaskan.
“Artinya, Kejagung secara institusional, sudah banyak menuai pujian atas peningkatan kinerjanya. Walaupun, mungkin secara personal masih ada oknum-oknum pejabat nakal yang tak bermoral,” katanya.
Menurut Jalih Pitoeng, fenomena tersebut, tidak hanya terjadi pada kejaksaan saja. Akan tetapi, itu juga terjadi pada kepolisian dan kehakiman.
“Terungkapnya peristiwa seperti ini kan bukan hal baru. Dan juga bukan hanya di kejaksaan, tapi juga sering terjadi di kepolisian bahkan kehakiman dimana keadilan disandarkan,” Jalih Pitoeng mengingatkan.
“Beginilah cara alam mendidik kita. Saat rakyat tak lagi mampu bersuara, justru para kaum terduga gratifikasi, manipulasi, korupsi bahkan TPPU, saling teriak dan membuka aib sendiri,” Jalih Pitoeng mengingatkan.
“Semoga semua fenomena dan peristiwa yang membuat rakyat terbelalak, menjadi sebuah pelajaran berharga bagi seluruh anak bangsa bahwa setiap kejahatan itu akan kembali kepada diri pelakunya,” lanjut Jalih Pitoeng.
“Kita butuh ketauladanan dari para pejabat dan aparat serta pemimpin negeri ini. Jadilah sapu yang bersih dan orang yang yang menyembuhkan bukan sekedar memberi obat,” pungkas Jalih Pitoeng. (L)


















