Suarademokrasi, JAKARTA, – Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) kembali digelar untuk kedua kalinya sebagai wadah memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan industri dalam mendorong pengembangan ekosistem hidrogen di Indonesia.
Forum ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang bertukar gagasan, tetapi juga menghasilkan langkah-langkah konkret guna mempercepat pemanfaatan hidrogen sebagai salah satu sumber energi alternatif dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060 atau lebih cepat.
Deputi IV Panitia Penyelenggara GHES, Ir. Agustanhakri, M.Eng., mengatakan antusiasme berbagai pemangku kepentingan pada penyelenggaraan tahun ini menunjukkan semakin kuatnya komitmen bersama dalam mengembangkan energi hidrogen.
“Alhamdulillah kemarin kita sudah opening. Terlihat dari yang hadir mulai dari akademisi, bisnis, pengusaha, hingga pemerintah, semua sudah berkolaborasi dalam kegiatan ini,” ujar Agustanhakri di sela-sela acara, Rabu (22/7/2026).
Ia berharap kolaborasi tersebut dapat terus berlanjut setelah penyelenggaraan GHES berakhir melalui berbagai program dan kerja sama nyata.
“Harapannya jangan hanya berhenti di sini, tapi berlanjut setelah acara. Apa yang bisa kita kerjakan untuk hidrogen ini, karena hidrogen adalah salah satu energi alternatif. Pemerintah juga sedang mencanangkan transisi energi dan NZE 2060. Tentunya semua jenis Energi Baru Terbarukan akan mengambil perannya masing-masing,” katanya.
Menurut Agustanhakri, perkembangan ekosistem hidrogen di Indonesia menunjukkan kemajuan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal itu terlihat dari sejumlah kebijakan yang telah diterbitkan pemerintah untuk mendukung pengembangan hidrogen secara nasional.
Beberapa kebijakan tersebut di antaranya Rencana Hidrogen dan Amonia Nasional (RHAN), Standar Nasional Indonesia (SNI) terkait penggunaan hidrogen, serta regulasi yang mendukung perdagangan hidrogen.
“Tahun lalu alhamdulillah kita sudah melaksanakan yang pertama, dan setelah itu sudah kelihatan aksi dari pemerintah untuk mendukung hidrogen ini. Mulai dari keluarnya RHAN, SNI penggunaan hidrogen, hingga aturan perdagangan,” ujarnya.
Selain dukungan regulasi, Agustanhakri juga menilai koordinasi antarlembaga pemerintah kini semakin baik. Menurut dia, semangat kolaborasi mulai menggantikan ego sektoral yang sebelumnya kerap menjadi tantangan dalam pengembangan energi baru terbarukan.
“Komunikasi antar-pemerintah juga semakin erat. Kalau biasanya kita mendengar ada ego sektoral, sekarang egonya sudah tidak ada. Kolaborasi yang muncul untuk mempercepat penggunaan energi hidrogen ini,” tuturnya.
Melalui penyelenggaraan GHES 2026, para pemangku kepentingan berharap kolaborasi yang telah terbangun dapat mempercepat terbentuknya ekosistem hidrogen nasional yang kuat dan berkelanjutan, sehingga mampu mendukung transisi energi menuju masa depan yang lebih bersih dan rendah emisi. (L)


















