Suarademokrasi, Jakarta – Lahan basah di kawasan dataran banjir (floodplain) Kalimantan selama ini kerap dipersepsikan sebagai lahan tidak produktif. Namun, menurut Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Organisasi Riset Kebumian dan Maritim, Prof. Dr. Hidayat S.Kom, M.Sc , kawasan tersebut justru memiliki fungsi vital dalam menjaga keseimbangan tata air dan mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.
Ia menjelaskan, lahan basah berfungsi sebagai daerah penyangga yang mampu menampung limpasan air saat musim hujan, kemudian melepaskannya secara bertahap ketika debit sungai menurun. Mekanisme alami ini dinilai berperan penting dalam mengurangi potensi banjir di wilayah hilir sekaligus menjaga ketersediaan air pada musim kemarau.
“Selama ini lahan basah sering dianggap sebagai wasteland atau lahan terlantar. Padahal, kawasan tersebut merupakan tempat penyimpanan air yang berfungsi sebagai daerah penyangga bagi wilayah di bagian hilir,” ujar Prof. Hidayat.
Menurut dia, salah satu contoh dapat ditemukan di kawasan Mahakam Tengah, Kalimantan Timur, yang memiliki sekitar 30 danau saling terhubung. Sistem perairan itu menjadi ruang tampung alami ketika curah hujan tinggi di wilayah hulu.
Apabila kawasan lahan basah tersebut mengalami kerusakan atau beralih fungsi, kata dia, daerah hilir seperti Tenggarong dan Samarinda berpotensi menghadapi risiko banjir yang lebih besar akibat berkurangnya kemampuan alam dalam menahan aliran air.
Selain berfungsi sebagai pengendali banjir, lahan basah juga menjadi cadangan air alami saat musim kemarau. Air yang tersimpan di kawasan tersebut akan mengalir secara perlahan sehingga membantu menjaga debit sungai dan mengurangi risiko kekeringan.
Prof. Hidayat juga mengingatkan pentingnya menjaga seluruh komponen ekosistem perairan. Menurutnya, tumbuhan air seperti eceng gondok yang kerap dianggap sebagai gulma tetap memiliki fungsi ekologis dalam sistem retensi air apabila berada dalam kondisi yang seimbang.
“Semua komponen ekosistem memiliki perannya masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana keseimbangan alam itu tetap terjaga,” katanya.
Lebih lanjut, ia menilai pengelolaan sumber daya air akan menjadi isu strategis pada masa mendatang, seiring meningkatnya kebutuhan air di berbagai sektor, termasuk perkembangan teknologi.
Menurut Prof. Hidayat, teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) pun membutuhkan sistem pendingin yang bergantung pada ketersediaan air. Karena itu, upaya menjaga ekosistem lahan basah dinilai tidak hanya penting bagi lingkungan, tetapi juga bagi keberlanjutan pembangunan dan kemajuan teknologi di masa depan. (L)


















