Suarademokrasi, Jakarta – PT Solenis Technology Indonesia terus memperkuat perannya dalam mendukung industri panas bumi (geothermal) di Indonesia dan Asia Tenggara. Perusahaan penyedia solusi kimia industri itu menawarkan teknologi perawatan kimia untuk membantu meningkatkan efisiensi operasi sekaligus menekan biaya pengelolaan sumur geothermal.
Field Service Engineer PT Solenis Technology Indonesia, Arif Eka Rahmanto, mengatakan Solenis memiliki pengalaman panjang secara global. Namun, pengembangan khusus untuk sektor geothermal semakin difokuskan dalam enam tahun terakhir setelah perusahaan mengakuisisi perusahaan di Turki.
“Untuk operasional geothermal, kami meng-cover wilayah Asia Tenggara seperti Filipina. Di Indonesia sendiri, klien kami tersebar di berbagai proyek besar seperti Geodipa, Sarulla, Sorik, Sokoria, hingga Dieng,” ujar Arif di sela-sela pameran geothermal di Jakarta.
Saat ini, Solenis juga melakukan sustainment operasional di proyek Sarulla dan Medco Ijen.
Teknologi untuk Tekan Biaya
Arif menjelaskan, solusi yang ditawarkan Solenis ditujukan untuk membantu perusahaan geothermal menekan biaya operasional (cost reduction), mempercepat proses pekerjaan, serta meningkatkan efisiensi produksi sumur.
Salah satu peralatan yang digunakan adalah skid pump. Sistem tersebut terdiri atas dua unit kontainer berukuran 20 feet dengan kapasitas tekanan hingga 30 bar.
Peralatan itu digunakan untuk menginjeksikan bahan kimia secara langsung ke sumur produksi maupun sumur injeksi. Penggunaan bahan kimia antara lain untuk menangani korosi (corrosion inhibitor) dan mengendalikan scaling atau pembentukan kerak.
“Peralatan operasional kami sangat simpel berupa skid pump yang terdiri dari dua unit kontainer 20 feet dengan kapasitas tekanan hingga 30 bar. Kami menginjeksikan bahan kimia langsung ke sumur produksi atau injeksi untuk treatment korosi maupun pengeringan (scaling),” jelas Arif.
Untuk menghadapi paparan zat korosif, peralatan Solenis menggunakan material stainless steel 316L. Sementara untuk kebutuhan suku cadang, perusahaan mengutamakan produk dengan kandungan lokal atau TKDN sebelum menggunakan jaringan pasokan global, seperti China dan Selandia Baru.
Berharap Pasar Geothermal Lebih Terbuka
Solenis memiliki fasilitas pabrik lokal di Bekasi. Perusahaan juga didukung pusat Research and Development (R&D) di China serta kantor regional untuk bisnis geothermal di Singapura.
Arif berharap industri geothermal Indonesia memiliki skema bisnis yang semakin kompetitif sehingga mampu menarik lebih banyak investasi.
“Kami berharap pasar geothermal bisa lebih terbuka seperti halnya sektor migas (oil and gas). Nilai pasar yang ditentukan oleh kebutuhan konsumen (customer-driven) akan jauh lebih menarik dari segi rate of return investment, sehingga industri ini bisa berkembang lebih masif lagi,” pungkasnya.
Menurut dia, semakin terbukanya pasar geothermal dapat menciptakan peluang bagi investasi dan pemanfaatan teknologi. Hal itu dinilai penting untuk mendorong pengembangan energi panas bumi di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. (L)


















