banner 728x250

Eggi Sudjana, Energi Gerakan, dan Jalan Panjang Sedekah Al-Qur’an Berbasis Data

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

Suarademokrasi, Jakarta – Di tengah riuh perdebatan publik Indonesia, nama Eggi Sudjana kerap hadir sebagai figur yang tidak hanya berbicara, tetapi juga menggerakkan. Ia berdiri di persimpangan antara hukum, politik, dan aspirasi umat—membawa gaya komunikasi yang lugas, kadang keras, namun memiliki daya jangkau yang luas, terutama di era media sosial.

Dalam berbagai momentum, dari ruang sidang hingga panggung aksi massa, Eggi menunjukkan satu hal yang konsisten: *kemampuan membangun perhatian publik dalam skala besar. Di YouTube, potongan pernyataannya kerap ditonton puluhan hingga ratusan ribu kali. Di TikTok dan platform pendek lainnya, klip-klipnya bisa menjangkau jutaan penonton. Ini bukan sekadar popularitas, melainkan kapital sosial berupa atensi*—sesuatu yang sangat mahal dalam ekosistem digital hari ini.

Namun di balik itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar: ke mana energi besar ini diarahkan?

Pada saat yang sama, Indonesia menghadapi persoalan yang jarang menjadi headline utama, tetapi memiliki dampak jangka panjang yang sangat besar: *ketersediaan dan literasi Al-Qur’an*. Dengan populasi sekitar 278 juta jiwa, di mana kurang lebih 240 jutanya adalah Muslim, kebutuhan terhadap mushaf Al-Qur’an sejatinya sangat besar. Di sisi lain, terdapat sekitar 2 juta titik ibadah—gabungan masjid dan musholla—yang menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat.

Di banyak wilayah, khususnya di desa dan daerah terpencil, satu masjid rata-rata hanya memiliki 20 hingga 50 mushaf, padahal kebutuhan idealnya bisa mencapai 100 hingga 150. Artinya, terdapat kekurangan sekitar 50 mushaf per lokasi. Jika ditarik secara nasional, angka ini bukan lagi ribuan, melainkan bisa menyentuh *puluhan hingga bahkan mendekati 100 juta mushaf*.

Persoalan ini semakin kompleks ketika masuk ke ranah literasi. Sejumlah riset menunjukkan bahwa sekitar *60 hingga 65 persen Muslim Indonesia belum lancar membaca Al-Qur’an*. Di wilayah 3T, angkanya bahkan bisa menembus 70 hingga 80 persen. Ini berarti, tantangannya bukan hanya menghadirkan mushaf, tetapi juga memastikan bahwa mushaf tersebut benar-benar dibaca, dipahami, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, potensi dana umat sebenarnya sangat besar. Potensi zakat nasional diperkirakan mencapai lebih dari Rp 300 triliun per tahun, sementara wakaf uang memiliki potensi sekitar Rp 180 triliun. Namun realisasinya masih jauh dari angka tersebut—bahkan belum menyentuh 15 persen. Salah satu penyebab utamanya adalah persoalan klasik: *kepercayaan, transparansi, dan minimnya pelaporan dampak*.

Di titik inilah, narasi dan sistem seharusnya bertemu.

Figur seperti Eggi Sudjana memiliki kekuatan pada *narasi dan mobilisasi. Ia mampu mengangkat isu, membangun emosi kolektif, dan mendorong orang untuk bergerak. Sementara itu, pendekatan berbasis teknologi—seperti konsep Qur’an Impact System (QIS)—menawarkan sesuatu yang selama ini hilang dalam banyak gerakan: struktur, data, dan akuntabilitas*.

Bayangkan sebuah skenario sederhana. Sebuah kampanye yang digerakkan oleh figur dengan jangkauan luas mampu menjangkau satu juta orang. Jika hanya satu persen saja yang tergerak untuk berdonasi sebesar Rp100 ribu—setara satu mushaf—maka akan terkumpul 10 ribu mushaf dalam satu gelombang. Jika kampanye semacam ini dilakukan secara konsisten sepanjang tahun, angka itu bisa berkembang menjadi ratusan ribu hingga jutaan mushaf.

Namun yang lebih penting bukan sekadar jumlahnya. Dengan sistem yang tepat, setiap mushaf dapat dilacak: ke mana ia dikirim, siapa penerimanya, dan bagaimana ia digunakan. Apakah dibaca dalam halaqah? Apakah digunakan oleh anak-anak di TPA? Apakah meningkatkan kemampuan baca Al-Qur’an di wilayah tersebut? Pertanyaan-pertanyaan ini yang selama ini jarang terjawab, kini bisa menjadi bagian dari laporan yang terukur.

Di sinilah gerakan sedekah Al-Qur’an berpotensi mengalami lompatan besar. Ia tidak lagi berhenti pada semangat berbagi, tetapi bergerak menuju *ekosistem berbasis data*. Narasi yang kuat tetap dibutuhkan untuk menggerakkan, tetapi sistem yang kokoh memastikan bahwa gerakan tersebut tidak berhenti sebagai momentum sesaat.

Dalam konfigurasi ini, sosok seperti Eggi Sudjana menemukan relevansi yang lebih luas. Ia tidak hanya berdiri sebagai pengkritik atau komunikator, tetapi berpotensi menjadi bagian dari arsitektur gerakan yang lebih besar—sebuah gerakan yang menjembatani antara energi umat dan kebutuhan nyata di lapangan.

Pada akhirnya, tantangan umat hari ini bukan kekurangan semangat, melainkan bagaimana mengelola semangat itu agar menjadi dampak yang nyata, terukur, dan berkelanjutan. Ketika narasi bertemu dengan data, dan mobilisasi bertemu dengan sistem, di situlah sebuah gerakan menemukan bentuknya yang paling matang. Salam Ta’ziem dan Jihad , Ustad Slamet dari Surabaya. (L)

banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *