Suarademokrasi, JAKARTA — Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Ketua Forum Penyelamatan Nahdlatul Ulama, Abdul Hamid Rahayaan, menyuarakan keprihatinan mendalam atas konflik internal yang melanda tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dinamika saling pecat di jajaran pimpinan tertinggi dinilai telah menguras energi warga Nahdliyin serta mengganggu para kiai sepuh yang selama ini menjadi panutan umat.
Abdul Hamid menyebutkan bahwa eskalasi konflik yang melibatkan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum KH Yahya Cholil Staquf, Sekjen Saifullah Yusuf, serta Nusron Wahid telah memicu keprihatinan luas di tingkat basis.
*Muktamar Dipercepat Dipatok 27 Agustus 2026*
Menanggapi ketegangan yang berlarut-larut, gelombang desakan dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di seluruh Indonesia mendorong dilaksanakannya
*Muktamar PBNU ke-35 yang dipercepat pada 27 Agustus 2026* dari jadwal semula pada Desember 2026.
“Diharapkan Muktamar mendatang dapat melahirkan figur Rais Aam dan Ketua Umum PBNU baru yang netral, tidak terlibat, serta tidak memiliki irisan dengan konflik saat ini. Hal ini penting agar PBNU kembali bersatu dan dapat fokus melayani umat serta membantu pemerintah mencari solusi atas berbagai problem bangsa,” ujar Abdul Hamid.
*Soroti Isu Manuver Politik dan Minta Klarifikasi Presiden*
Di tengah persiapan menuju Muktamar ke-35, Abdul Hamid menyoroti persoalan baru terkait isu pergerakan dua pembantu Presiden Prabowo Subianto, yakni Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, yang kembali mendorong KH Miftachul Akhyar untuk menduduki posisi Rais Aam PBNU.
Abdul Hamid menilai situasi ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan warga NU terkait arah dan tujuan Muktamar tersebut.
*Desakan Klarifikasi:*
Abdul Hamid meminta Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan penjelasan terbuka kepada publik guna memutus spekulasi liar mengenai adanya skenario politik luar yang ingin memecah belah NU.
*Peringatan Pentingnya Keutuhan NU:*
Ia mengingatkan sejarah pendirian NU oleh para aulia yang dipimpin oleh Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari dengan tujuan utama menjaga keutuhan NKRI. Menurutnya, kekuatan negara sangat berkelindan dengan kekuatan NU.
*Imbauan kepada Pejabat Terkait:*
Abdul Hamid mengimbau Saifullah Yusuf dan Nusron Wahid untuk menghentikan manuver yang berpotensi merusak nama baik Presiden Prabowo di mata warga Nahdliyin secara global.
Abdul Hamid menutup pernyataannya dengan harapan agar semua pihak dapat menahan diri dan mengutamakan kebaikan NU serta kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (L)


















