Suarademokrasi, JAKARTA — Warisan budaya dan kekayaan alam Trenggalek, Jawa Timur, dituangkan Batik Tulis Alya ke dalam karya batik tulis berbahan pewarna alami.
UMKM binaan Bank Indonesia (BI) Kediri tersebut membawa motif khas Trenggalek dalam ajang pameran UMKM Bank Indonesia 2026 yang berlangsung di Jakarta.
Pemilik Batik Tulis Alya, Tiwi Pontjowati, mengatakan, motif yang dihadirkan terinspirasi dari sejarah dan potensi daerah Trenggalek. Salah satunya adalah cengkeh yang menjadi bagian dari kisah kejayaan daerah tersebut saat mengalami panen raya pada 1976.
Selain cengkeh, Batik Tulis Alya juga mengangkat kesenian tradisional Turangga Yaksa sebagai salah satu motif khas pada kain produksinya.
“Satu lembar kain batik tulis pewarna alam membutuhkan waktu pengerjaan sekitar tiga minggu hingga satu bulan,” ujar Tiwi saat ditemui dalam pameran di Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Menurut dia, penggunaan pewarna alami menjadi salah satu keunggulan produk Batik Tulis Alya. Selain memberikan karakter warna yang khas, proses tersebut juga membuat produk lebih ramah lingkungan sekaligus memiliki nilai eksklusivitas.
Produk yang dihasilkan tidak hanya berupa kain, tetapi juga dikembangkan menjadi berbagai produk fesyen dan aksesori, seperti kemeja, syal, rok, blus, tas, hingga topi berbahan kain perca.
“Kami fokus pada busana kemeja yang bisa digunakan mulai dari remaja hingga orang dewasa,” kata Tiwi.
Untuk satu lembar kain batik tulis dengan pewarna alami, harga yang ditawarkan mulai dari Rp 850.000.
Batik Tulis Alya kini tidak hanya mengandalkan pasar lokal. Produknya telah dipasarkan di sejumlah lokasi strategis, antara lain Sarinah Jakarta dan Hotel Sheraton Surabaya.
UMKM tersebut juga memiliki showroom mandiri di Trenggalek. Untuk memperluas pasar, penjualan dilakukan secara daring melalui sejumlah platform digital, termasuk TikTok, Instagram, dan Shopee.
Dorong Ekonomi Hijau
Staf Bank Indonesia Kediri, Beni Karunia, mengatakan keikutsertaan Batik Tulis Alya dalam pameran UMKM BI 2026 sekaligus membawa pesan mengenai pentingnya pengembangan ekonomi hijau dan berkelanjutan.
Menurut dia, penggunaan bahan pewarna alami menjadi salah satu bentuk penerapan prinsip ramah lingkungan dalam pengembangan produk UMKM.
“Kami membawa produk dengan warna-warna alami yang ramah lingkungan. Harapannya produk ini semakin diminati, dikenal luas, dan laku keras,” ujar Beni.
BI Kediri, kata Beni, memboyong dua UMKM yang telah lolos kurasi BI Pusat untuk mengikuti pameran tersebut.
Selain Batik Tulis Alya dari Trenggalek, UMKM yang turut dibawa adalah Swarnabumi Ecoprint dari Nganjuk.
Keikutsertaan kedua UMKM tersebut diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus memperkenalkan produk lokal Jawa Timur yang mengedepankan nilai budaya dan prinsip keberlanjutan kepada konsumen di tingkat nasional. (L)


















