banner 728x250

Ucapkan Dirgahayu Bhayangkara, Jalih Pitoeng Minta Jangan lagi ada Kriminalisasi dan Politisasi Hukum

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

Suarademokrasi, JAKARTA – Mantan Tapol dan Napol era Jokowi Jalih Pitoeng ingatkan bahwa diusia yang ke 80 Bhayangkara agar tidak terjadi lagi kriminalisasi dan Politisasi Hukum.

Harapan tersebut disampaikan kepada awak media oleh Jalih Pitoeng pada saat dirinya sedang berada di gedung kementerian dalam negeri.

Menurut ketua umum FORMASI (Forum Aliansi Masyarakat Anti Korupsi) tersebut bahwa polisi harus menjunjung tinggi Profesionalitas dan Equalitas serta Tribrata.

Terkait berita yang beredar mengenai penyitaan aset milik dokter Tifa oleh pihak kejaksaan negeri Jakarta Selatan, aktivis Betawi yang sempat mengecam ilmu manajemen keuangan dan perbankan ini juga mengatakan bahwa kejaksaan tidak akan gegabah melakukan sita jaminan.

“Penyitaan aset seorang pengusaha yang dijadikan jaminan hutang, tentunya harus melalui prosedur yang cukup panjang,” kata Jalih Pitoeng, Selasa (30/06/2026).

“Namun saya juga bingung,” imbuhnya keheranan.

“Apakah ini semua kebetulan atau ada memang ada upaya untuk melemahkan mental dokter Tifa yang sedang menghadapi perkara pada sidang perdana di pengadilan negeri Jakarta Timur,” katanya.

“Tapi penyitaan ini, kagak ada korelasinya dengan perkara ijazah Jokowi,” Jalih Pitoeng menegaskan.

Selain itu, Jalih Pitoeng juga mengemukakan bahwa dirinya meyakini bahwa pihak kejaksaan sudah menempuh prosedur yang sangat panjang.

Lebih jauh Jalih Pitoeng mengatakan, jika ini inprosedur dalam proses penyitaan tersebut maka patut dipertanyakan.

Sebagai sesama aktivis yang konsisten berada di garis perjuangan rakyat, Jalih Pitoeng mengajak agar masyarakat bisa hadir sekaligus mengawal persidangan tersebut.

Dalam keterangannya dihadapan awak media, Jalih Pitoeng juga menceritakan apa yang disampaikan oleh dokter Tifa melalui platform media sosialnya.

“Oh ya tadi pagi saya sempat baca curhatan dokter Tifa di Facebook. Dimana beliau menceritakan tentang adanya beberapa tekanan,” ungkap Jalih Pitoeng.

Berikut Curhatan dokter Tifa yang di-posting di Facebook tadi pagi;

TEROR DAN INTIMIDASI TERUS BERLANGSUNG

Saya tidak pernah membayangkan bahwa sebuah niat baik dapat berakhir menjadi beban yang begitu panjang dan berat.

Semua bermula dari sebuah ikhtiar sederhana. Sesama perempuan, sesama ibu, kami membangun sebuah usaha dengan harapan dapat saling menguatkan. Tidak ada niat buruk. Tidak ada keinginan mengambil hak orang lain. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa kami bisa bertumbuh bersama.

Lalu pandemi COVID-19 datang.

Seperti jutaan usaha lain di negeri ini, usaha yang kami bangun pun runtuh. Bukan karena kami tidak bekerja keras, tetapi karena keadaan berubah begitu cepat sehingga banyak hal berada di luar kemampuan kami untuk mengendalikannya.

Dalam dunia usaha, untung dan rugi adalah bagian dari risiko yang diketahui semua orang. Namun saya tidak pernah ingin meninggalkan tanggung jawab. Karena itulah saya memilih jalan yang mungkin tidak mudah. Saya tetap berusaha mengembalikan dana yang sudah ditanam sedikit demi sedikit, sesuai kemampuan yang saya miliki.

Saya percaya bahwa integritas bukan diukur ketika hidup sedang mudah, tetapi ketika seseorang tetap memegang janjinya di tengah kesulitan.

Namun perjalanan hidup ternyata membawa saya ke ujian yang jauh lebih berat.

Ketika saya akan maju ujian seminar hasil di suatu pagi malah gelap, tetiba polisi menangkap dan meneror dengan brutal. Kini, ketika saya baru menjalani wajib lapor pertama dan seluruh tim penasihat hukum telah siap menghadapi persidangan yang akan dimulai pada 2 Juli, pada saat yang hampir bersamaan saya kembali menerima penetapan penyitaan apartemen saya, hanya akibat dana usaha kecil-kecilan yang padahal sudah saya cicil sedikit demi sedikit.

Sebagai manusia, saya tentu bertanya dalam hati mengapa berbagai peristiwa besar itu selalu datang tepat pada saat-saat yang sangat menentukan dalam hidup saya. Saya tidak ingin berspekulasi mengenai alasan di balik semuanya. Saya hanya dapat menyampaikan apa yang benar-benar saya alami.

Yang paling berat bukanlah apartemen itu sendiri.

Yang paling berat adalah ketika anak saya yang sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang persoalan orang tuanya, harus membuka pintu rumah dan menyaksikan proses penyitaan itu berlangsung. Sebagai seorang ibu, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat anak ikut memikul beban yang bukan miliknya.

Namun saya tidak akan membiarkan semua tekanan itu mengubah siapa diri saya.

Saya tetap percaya bahwa tanggung jawab harus diselesaikan dengan tanggung jawab. Saya tetap percaya bahwa hukum harus dihormati. Dan saya tetap percaya bahwa kebenaran harus diperjuangkan melalui cara-cara yang bermartabat.

Karena itu, kepada seluruh sahabat dan para pejuang yang selama ini berjalan bersama saya, saya ingin menyampaikan satu hal.

Jangan biarkan berbagai tekanan yang saya alami hari ini melemahkan semangat kita untuk terus mencari dan memperjuangkan apa yang kita yakini sebagai kebenaran. Saya tidak meminta siapa pun membela saya sebagai pribadi. Yang saya harapkan hanyalah agar semangat untuk menjunjung kejujuran, integritas, dan keberanian tidak pernah padam.

Saya akan tetap berdiri dengan kepala tegak.

Tekanan boleh datang silih berganti. Cobaan boleh datang bertubi-tubi. Tetapi keyakinan saya tidak akan runtuh.

Selama hati nurani masih memanggil saya untuk memperjuangkan apa yang saya yakini benar, saya tidak akan mundur.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang paling kuat menghadapi badai. Sejarah juga mencatat siapa yang tetap memilih berdiri tegak ketika badai itu datang.

Berapa jahatnya berita yang beredar yang tidak sesuai dengan fakta yang sesungguhnya.

Setelah ancaman, teror, bujukan restorative justice, rayuan Rp 50 miliar tidak mempan, sekarang yang dilakukan adalah fitnah mempermalukan, untuk melemahkan mental saya menghadapi Sidang 2 Juli 2026.

Hasbunallah wani”mal wakil

Nimal maula wani’man nashiir.

La haula wala queeata illa billah.

Menyikapi curhatan tersebut, Jalih Pitoeng berharap sekaligus berdoa semoga dokter Tifa tetap tegar dan semangat dalam menghadapi berbagai tantangan dan cobaan.

“Kita berdoa agar dokter Tifa tetap semangat dan tegar dalam menghadapi berbagai rintangan dan cobaan dalam perjuangan,” ungkap Jalih Pitoeng penuh harap.

“Kan tersangka belum tentu bersalah. Demikian juga terdakwa,” kata Jalih Pitoeng.

“Maka mari kita saksikan bagaiman proses eksaminasi di pengadilan,” pinta Jalih Pitoeng.

“Bisa jadi berbalik. Karena tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan menghendaki,” pungkasnya. (L)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *