banner 728x250

BRIN Dorong Kemandirian Industri Kosmetik dan Kesehatan Berbasis Bahan Alam

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

Suarademokrasi, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk mandiri dalam industri kesehatan dan kosmetik berbasis bahan alam. Potensi tersebut didukung melimpahnya sumber daya alam serta kemampuan riset dan teknologi yang dimiliki dalam negeri.

Profesor Riset Dr. Aswandi, S.Hut., M.Si dari Pusat Riset Botani Terapan, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN mengatakan, selama ini banyak bahan alam asal Indonesia justru diolah di luar negeri sebelum kembali dipasarkan ke dalam negeri dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya dapat diubah dengan memperkuat hilirisasi riset dan penguasaan teknologi pengolahan bahan alam di dalam negeri.

“Indonesia memiliki sumber bahan baku yang sangat melimpah. Seharusnya ini menjadi peluang besar agar kita bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan industri kesehatan maupun kosmetik,” ujar Aswandi dalam rangkaian kegiatan pameran industri bahan baku dan teknologi di Jakarta.

Ia menjelaskan, Indonesia sebenarnya tidak tertinggal dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengolah bahan alam menjadi produk bernilai tambah tinggi, baik produk setengah jadi maupun produk jadi.

“Kalau kita mampu mengolah sendiri dengan teknologi dan pengetahuan yang kita miliki, tentu nilai tambahnya akan kembali ke Indonesia. Kita tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah,” katanya.

Aswandi mencontohkan sejumlah teknologi yang kini mulai banyak diminati industri, seperti teknologi ekstraksi bahan alam, pemanfaatan enzim untuk kosmetik, hingga pengolahan minyak atsiri untuk kebutuhan kesehatan dan farmasi.

Dalam kesempatan tersebut, BRIN juga menampilkan sejumlah hasil riset dan teknologi yang mendapat perhatian dari pelaku industri maupun buyer. Menurut Aswandi, antusiasme industri terhadap teknologi pengolahan bahan alam yang dikembangkan BRIN cukup tinggi.

“Kami melihat antusiasme yang cukup besar dari industri. Ternyata teknologi ekstraksi dan pengolahan bahan alam yang kami kembangkan memang dibutuhkan,” ungkapnya.

Tak hanya fokus pada industri besar, BRIN juga membuka ruang kolaborasi dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Salah satunya melalui layanan konsultasi formulasi produk berbasis bahan alam, termasuk parfum.

Aswandi mengatakan, pendampingan tersebut diberikan sebagai upaya mendekatkan teknologi kepada masyarakat dan membantu UMKM meningkatkan daya saing produk.

“Ada pelaku UMKM yang datang membawa produk parfum lalu ingin memperbaiki formulanya. Kami bantu konsultasikan, bahkan tanpa biaya. Harapannya, teknologi bisa lebih dekat dengan masyarakat dan industri kecil,” katanya.

Ke depan, BRIN berharap kolaborasi antara peneliti, industri, dan UMKM dapat semakin diperkuat agar hasil riset dalam negeri tidak berhenti di laboratorium, melainkan berkembang menjadi produk unggulan bernilai ekonomi tinggi. (L)

banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *