Suarademokrasi, Jakarta – PT Aman Agrindo Tbk mencatatkan kinerja positif pada awal tahun 2026. Emiten yang bergerak di industri hilir gula ini membukukan peningkatan penjualan sekitar 4% pada periode yang berakhir 31 Maret 2026, jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Direktur Utama PT Aman Agrindo Tbk, Andreas Utomo, menjelaskan bahwa performa apik ini didorong oleh peningkatan volume penjualan produk gula perseroan di sepanjang kuartal pertama tahun ini.
”Hal ini disebabkan oleh peningkatan penjualan produk gula perseroan pada kuartal I-2026,” ujar Andreas dalam paparan publik perseroan, Jakarta, Jumat (19/6/2026).
Sejalan dengan pertumbuhan penjualan, total aset perseroan per 31 Maret 2026 juga mengalami kenaikan sekitar 1% dibanding posisi per 31 Desember 2025. Kenaikan aset ini utamanya dipicu oleh penambahan persediaan pada kuartal pertama.
Di sisi lain, total liabilitas perseroan tercatat naik sekitar 2% akibat adanya peningkatan utang bank jangka pendek untuk mendukung operasional. Sementara itu, ekuitas perseroan relatif stabil dengan kenaikan tipis 0,03%, disokong oleh pertumbuhan saldo laba ditahan dari laba neto kuartal berjalan.
Dari segi rasio profitabilitas, perseroan mencatat net profit margin sebesar 0,09% dan gross profit margin sebesar 8,09%. Adapun Return on Asset (ROA) berada di angka 0,02% dan Return on Equity (ROE) di posisi 0,03%.
Bidik Efisiensi Lewat Integrasi Hulu-Hilir
Manajemen PT Aman Agrindo optimistis prospek bisnis gula di Indonesia masih sangat menjanjikan. Hal ini didorong oleh status Indonesia sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia. Dengan jumlah penduduk yang diproyeksikan mencapai 292,48 juta jiwa pada tahun 2028, konsumsi gula domestik diperkirakan melonjak hingga 8,03 juta ton.
Untuk menangkap peluang tersebut, perseroan telah menyiapkan sejumlah strategi terintegrasi. Salah satu langkah terbesarnya adalah merampungkan pembangunan pabrik produksi baru guna membangun alur usaha yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
”Membangun pabrik produksi agar perseroan memiliki alur usaha yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Sehingga biaya produksi dapat ditekan dan tingkat profitabilitas akan meningkat melalui efisiensi,” ungkap Andreas.
Selain itu, strategi lainnya meliputi menawarkan penjualan gula dengan batas minimum yang rendah namun harga tetap bersaing, serta membidik segmen pelanggan UMKM dan retail yang membutuhkan pasokan gula skala kecil. Perseroan juga berkomitmen menjaga tingkat persediaan yang memadai demi memaksimalkan pemenuhan permintaan pasar baru.
Tantangan Operasional dan Fluktuasi Harga
Meski menatap masa depan dengan optimistis, manajemen mengakui ada beberapa tantangan nyata yang membayangi. Salah satunya adalah adanya penyesuaian teknis dalam proses pembangunan pabrik gula merah perseroan. Hal ini sempat memicu keterlambatan penyelesaian operasional pabrik.
Tantangan lainnya datang dari faktor eksternal, seperti fluktuasi harga gula global yang sulit diprediksi, serta ketidakstabilan kondisi ekonomi yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat dan permintaan pelanggan.
Kendati demikian, manajemen tetap optimis kinerja operasional dan keuangan hingga akhir tahun 2026 akan jauh lebih baik. Keyakinan ini diperkuat dengan rampungnya pembangunan pabrik gula merah baru yang siap mendongkrak kapasitas produksi perseroan dalam waktu dekat.
Dalam agenda tersebut, turut hadir jajaran direksi dan komisaris perseroan, di antaranya Komisaris Utama Irchan Hanif, Komisaris Independen Andre Hendra Setia, serta Direktur Michael Utomo. (L)

















