banner 728x250

Tantangan Pasokan Kakao Global Tekan Kinerja BTEK, Perseroan Siapkan Strategi Pemulihan di 2026

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

Suarademokrasi, Jakarta – PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) mengakui kinerja perseroan sepanjang tahun buku 2025 masih menghadapi tekanan akibat kondisi industri kakao global dan proses restrukturisasi pada entitas anak usaha.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025, BTEK membukukan pendapatan sebesar Rp 72,02 miliar, turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 635,63 miliar.

Direktur Utama PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk, Dhanny Cahyadi, mengatakan penurunan tersebut dipengaruhi faktor eksternal maupun internal yang berdampak pada aktivitas operasional perusahaan.

“Industri kakao global mengalami gangguan pasokan akibat turunnya produksi di Ghana dan Pantai Gading. Kondisi ini mendorong kenaikan harga kakao dunia sekaligus mengganggu rantai pasok industri pengolahan kakao,” ujar Dhanny dalam keterangannya.

Selain itu, proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada anak usaha PT Golden Harvest Cocoa Indonesia (GHCI) yang baru memperoleh homologasi pada Februari 2025 turut memengaruhi aktivitas bisnis. Situasi tersebut membuat sejumlah pemasok, pelanggan, hingga mitra usaha mengambil sikap lebih berhati-hati dalam bertransaksi.

Dari sisi neraca, total aset perseroan tercatat sebesar Rp 3,51 triliun, turun dari Rp 3,89 triliun pada tahun sebelumnya. Penurunan dipengaruhi berkurangnya aset lancar, penyesuaian nilai goodwill, serta penurunan aset tidak lancar lainnya.

Meski demikian, aset tetap meningkat menjadi Rp 1,97 triliun dari Rp 1,92 triliun seiring berlanjutnya realisasi belanja modal (capex) untuk mendukung operasional perusahaan.

Sementara itu, total liabilitas turun menjadi Rp 3,23 triliun dari Rp 3,43 triliun pada 2024. Penurunan didorong oleh berkurangnya kewajiban jangka pendek setelah penyelesaian utang usaha, pelunasan uang muka pelanggan, dan pembayaran sejumlah beban operasional.

Memasuki 2026, BTEK menilai prospek industri kakao mulai menunjukkan perbaikan seiring membaiknya pasokan global dan meningkatnya permintaan produk kakao bernilai tambah.

Untuk memanfaatkan peluang tersebut, perseroan menyiapkan tiga strategi utama, yakni meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional pabrik, memperluas pasar ekspor serta penetrasi produk kakao premium, dan memperkuat kondisi keuangan melalui pengelolaan likuiditas, perbaikan struktur modal, serta pengendalian biaya.

Dhanny optimistis langkah tersebut dapat mendorong pemulihan kinerja perusahaan secara bertahap.

“Kami optimistis strategi yang dijalankan dapat meningkatkan pendapatan secara berkelanjutan, memperkuat kepercayaan para pemangku kepentingan, serta menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham,” pungkasnya. (L)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *